Seringkali apa yang disebut kerisauan adalah ketika pikiran dan hati tidak bisa jalan beriringan.
Aku ada didunia yang mungkin semua orang tidak menginginkan ada dalam keadaanku saat ini. Ditikam oleh banyak cibiran, caci makian, bahkan kebencian yang meluap-luap sering diarahkan padaku.
Aku tidak mengelak tapi aku juga tidak mengiyakan. Karena takdir yang membawaku harus mengalami dan menjalani hal seperti ini. Dari kemanusiaanku, sebenarnya ingin berteriak sekeras-kerasnya di telinga mereka-mereka yang memperlakukanku seperti itu.
Bukan.. Bukan.. Sama sekali bukan pembelaan, aku hanya ingin menceritakan yang sebenarnya terjadi. Dan, penilaian aku kembalikan pada mereka yang mau mendengarkanku.
Dari tiap kota yang aku singgahi, aku hanya dikejar bayang-bayang kesalahan yang sama. Teriakanku hanya memantul pada panjangnya lorong waktu yang aku lewati, hanya memekakan telingaku sendiri.
Dibelakangku semua bayang berkejaran berebut merenggut dan menjatuhkanku dan mengurungku dalam terali buta tuli. Didepanku fatamorgana yang megah terpampang indah.
Yang begitu aku kejar dan aku dekati, selalu menghilang lagi dibenamkan kepekatan yang teramat sangat.
Jumat, 22 Januari 2016
Mengais Hidayah (sajak buronan 1)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar