Pada akhirnya aku harus mengaku kalah.
Tuhan lebih memilihnya ketimbang memilihku untuk mendampingimu.
Mungkin ia lebih bisa berbesar hati ketika kau main di banyak hati– Tidak seperti aku.
Mungkin ia lebih bisa meredam semua tingkah laku nakalmu– Tidak seperti yang aku mampu dan selalu aku lakukan dlm menjagamu di hatiku..
Mungkin ia lebih bisa membuatmu berhenti singgah sebentar lalu pergi lagi– Tidak seperti ketika kau bersamaku kemarin.
Pada akhirnya aku harus tetap mengaku kalah.
Satu-satunya pemenang di permainan ini adalah doaku yang dikabulkan Tuhan. Doa meminta kau bahagia. Doa meminta kau menjadi sosok pendamping yang jauh lebih baik lagi dari kata sempurna.
Walau pada akhirnya aku harus tetap mengaku kalah, bahwa di hadapan Tuhan, aku bukanlah orang yang tepat untuk mendampingimu ketika kau mulai berubah menjadi sosok yang dulu sempat aku impikan.
Atau jika Tuhan masih mengijinkan.??????? Masih bisa kah doaku merubah kekalahan-kekalahanku menjadi Kemenangan umpama janji senja yang pernah kita pahat bersama.
SEMOGA..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar