Lembar

Kamis, 11 Juli 2013

Tarbiyah Ruhiyah Ramadhan

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Al Baqoroh 2 : 185)

Assalamu’alaikum wr wb..
Saudaraku kaum muslimin wal muslimat yang di rahmati Alloh..

Betapa mulianya digambarkan bulan ramadhan dalam beberapa ayat-ayat Al Qur’anul Kariim.
Bulan Ramadhan sejatinya adalah bulan tempat kita bisa mengintip surga. Merasakan kedekatan dengan surga melalui amal-amal terbaik kita. Pintu-pintunya pun terbuka. Bahkan syaitan sang penggoda harus diikat kuat tak berkutik. Hakikat dari diikatnya syaitan adalah dalam sebenar-benarnya terikat yang keadaan mereka (para syaitan) di belenggu oleh Alloh SWT.
Lalu tinggalah kader-kader syaitan dari jenis manusia yang masih merajalela,yang muncul dari sikap keseharian manusia dalam 11 bulan selain romadhon, yang lantas menjadi kebiasaan.
Kita biasa menyebutnya dengan nafsu. Nah, nafsu inilah –jika kita tidak hati-hati- akan merubah program ramadhan romantis kita berubah menjadi tidak karuan. Dari janji pahala menjadi ancaman dosa. Dari mesra yang berpahala hanya menjadi kemenangan sang durjana.

Banyak produk-produk provokasi syaitan yang difollow up dengan baik oleh sang nafsu mampu menghancurkan pahala puasa kita. Yang paling semu mungkin adalah ketika mesra (sepasang suami istri) kita justru ternoda dengan kata-kata kotor dan keji. Bermesraan di siang Ramadhan sungguh perlu intensitas pengendalian diri yang cukup. Karena ketika mesra kita justru menjadi parade kata-kata seronok dan vulgar, jangan ada sesal ketika lapar dahaga kita menjadi tiada guna. Juga terkadang gerutuan-gerutuan yang keluar tanpa sengaja,atau bahkan tidak kita maksudkan untuk menggerutu,kepada manusia sendiri atau pada keadaan yang ada dan kita hadapi dalam keseharian. Contoh sederhana dari gerutuan kepada sesama manusia adalah “Kerja pada gak ada yang bener sih..! (misal kita seorang atasan) dan yang merasa melakukan pekerjaan yang diumpat begitu tidak merasa ridho,maka akan mengurangi kaidah manfaat menahan lapar dan haus kita.
Atau ada saat kita menggerutu pada keadaan, “ Panas sekali,siang ini..” Haus sekali..” Lemas sekali..”  itupun dapat mengurangi manfaat puasa kita,jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga dalam puasa kita, menjaga dan berhati-hati dalam segala sikap juga perilaku kita,”Al Ihtiyatu Ahsan” (Berhati-hati lebih baik).

Seperti dijelaskan melalui hadits :

Dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak puasa itu dari (menahan) makan dan minum saja. Akan tetapi puasa dari hal yang sia-sia dan kata-kata keji " (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim : Sohih dengan syarat Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah, Nisa'i, Hakim : Shohih dengan syarat Bukhori

Saudaraku seiman yang dimulyakan Alloh SWT.
Hari ini kita tengah berada dihari di bulan Ramadhan.
Saatnya mereguk nikmat pahala dan ampunan sebanyak-banyaknya. Hikmah di balik semua ini adalah untuk menggiring umat islam pada takwa, mencipta sosok-sosok yang muttaqien dan tunduk pada Rabbnya.
Sosok-sosok bertakwa itulah yang diharapkan lahir dari tarbiyah ruhiyah yang berlangsung selama bulan Ramadhan. Mereka adalah manusia-manusai unik. Disebut unik, karena mereka merasakan kebahagiaan sekaligus membahagiakan orang lain.
Keunikan itu di jelaskan dalam firman Allah,
“dan bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan utnuk orang-ornag yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu. Sedang mereka mengetahui.” (QS. 3:133-135)
Dari tiga ayat ini dapat di uraikan sejumlah keunikan karakter orang yang bertakwa.
Pertama, punya kepedulian sosial yang tinggi. Ini tercermin dalam uluran tangannya kepada yang lemah, tidak peduli ia sedang lapang atau sempit. Dalam hidup, ia tidak mementingkan diri sendiri, tapi juga peduli terhadap saudara-saudaranya yang membutuhkan.
Kedua, mampu mengendalikan emosi sehingga menunjukkan kematangan jiwa, pikiran dan kedewasaan dalam berinteraksi dengan sesama. Hal ini ia lakukan di rumah, di tempat kerja, lingkungan dan dimanapun ia bergaul.
Ketiga, suka memaafkan kesalahan orang lain. Ia tidak punya niat untuk balas dendam, dan selalu menunjukkan sifat tawadhunya itulah kepribadian dan akhlaknya di tengah masyarakat, baik sebagai pemimpin maupun rakyat.
Keempat, hatinya dihiasi kedekatan dengan allah, pengawasan (muraqabah) dan rasa takut pada-Nya. Karena itu, ketika suatu saat ia lalai dan terjatuh pada dosa, ia langsung sadar dan segera bertaubat kepada Allah, memohon ampunan-Nya tanpa menunda-nunda atau terus larut dalam kemaksiatannya. Ia sadar betul selain para nabi dan rosul alaihissalam, tak ada yang maksum atau lepas dari kesalahan dan dosa. Bahkan orang bertakwa sekalipun, bisa saja jatuh dalam kubangan kemaksiatan dan dosa. Bedanya, orang bertakwa jika terlanjur melakukan kesalahan, ia segera sadar dan bertaubat pada allah yang maha pengasih, dan tak mengulanginya lagi.
Semoga Kita dapat menjadi pejuang-pejuang ramadhan yang tangguh,untuk menyongsong kemenangan dan dijauhkan dari kesia-sian.
Subhanakallohumma wabihamdik ashadu alla waila anta wastaghfiruka wa atubu ilaik..
Hamba yang Faqir yang tanpa bermaksud menggurui karena sang Faqir ini hanya berpegang teguh pada al-hadits
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR Muslim no. 2674).
Jika semua harta adalah racun, maka zakatlah penawarnya
Jika seluruh umur adalah dosa, maka tobatlah obatnya
Jika seluruh bulan adalah noda, maka Ramadhan lah pemutihnya
Mohon maaf lahir batin

Svarid,Manager KJKS BMT NURUL ASMA’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar