Datang begitu saja,sebuah ingatan panjang tentang garis-garis kenangan..
Kisah panjang tentang sebuah perjalanan takdir yang mengumpulkan jiwa-jiwa muda beringas, cadas, memelas dan nafas-nafas memburu pada sebuah arti pencarian jatidiri.
Malam-malam yang kita cumbu bersama,lalu menggeliat diantara bisik angin tengah malam yang lambungkan kita,pada mimpi-mimpi semu..
Lalu koor kita tentang lagu-lagu benteng-benteng rapuh kita pada emosi,gejolak nafsu juga cumbuan pada bergelas-gelas arak,gumpalan asap-asap damai,atau hembus pipa-pipa penyuling desis penyemangat hampa..
Gurau kita seperti setiap malam-malam yang kita lalui bersama adalah hanya milik kita..
"Malam ini milik kita........ Jalan kita masih panjang.." Dan dekap kita pada perayaan sederhana kita,selalu kita teriakkan,pada kaki-kaki langit yang angkuh mencibir kita..
Bintang dan tanpa bintang,kita selalu menengadahkan harap pada puncak-puncak langit penuh gemerlap..
Hanya ada suka, hanya ada canda, hanya ada tawa..
Lalu waktu beranjak..
Waktu tak mau menunggu kita,menghabiskan arak-arak yang masih belum habis tertuang..
Waktu tak mau berhenti menanti kita yang sedang menimbang arah,jalan mana yang kita lalui..
Waktu enggan berbalik menjemput kita, untuk mengantar kita pada puncak-puncak harapan..
Waktu berjalan meninggalkan kita pada jejak-jejak yang lenyap tersiram hujan..
Satu persatu kehidupan kita terampas pada sebuah perebutan kepentingan hidup..
Kau pergi,dia pergi, mereka pergi, aku berlalu..
Dinding lapuk kenangan, akan terus memahat kisah kita, kisah anak-anak jaman yang melengkapi takdir..
Hingga pada saatnya nanti kita lewati lorong dengan dinding kenangan itu, kita bisa berujar "Kami pernah menjadi bagian dari pahatan di dinding yang kita sebut, KENANGAN KENAKALAN MASA MUDA yang indah dulu..
Sahabat..
Semoga kalian masih ingat tiap detiknya..
Yang telah pergi dalam keabadian.. Selamat jalan kawan.. Bernyanyilah bersama PELANGI..
(Dedicated for : Mak Kolot,Double Mad,EX-COOL,Almarhum,Tipe-Ex,sleeting dool,ataupun panggung-panggung underground sepanjang jakarta,jiwa-jiwa haus dulu, di marie gold,RIKA,ataupun Pala Sari,Juga warkop-warkop disekitarnya,yang jika kita tidak memiliki banyak uang,kita biasa menghutang sekedar tempe goreng pengganjal perut kosong di malam-malam kita. Pluit dalam,Penjaringan,Gang mawar,Wacunk,pluit raya,tanah merah and for all yang telah menuliskan abjad-abjad indah pada "SEBUAH PERJALANAN" takdir ku....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar